JABIR BIN HAYYAN Ilmuwan dan filsuf Arab perintis pertama dalam ilmu kimia.

Jabir dilahirkan di kota Thus Iran pada tahun 101 H (720M), dari seorang ayah yangbekerja dibidang farmasi.
Sebelum masa ]abir bin Hayyan, kimia merupakan sekumpulan praktik profesi primitif yang didasarkan kepada pengalaman. Kimia banyak dipergunakan untuk mengawetkan mayat pada masa Mesir kuno, untuk menyamak dan pembuatan barang industri seperti pembuatan barang-barang tambang, kaca, cat, serta menyuling minyak dan parfum.

Jabir termasuk orang-orang yang semangat untuk mengadakan penelitian tentang rahasia elixir (cairan yang dapat mertrbah barang tambah yang murah menjadi berharga). Semangat memiliki pengaruh positif, karena telah mendorongnya untuk mengadakan penelitian kimia dan mengembangkannya dari kedudukannya pada masa primitif sebagai alkimia menjadi ilmu kimia (chemistry) dengan banyak menambah pengetahuan ilmiah dan teoritis baru, menggagas dasar-dasarnya, cara penyajiannya dan cara pengobatan.

usaha Jabir dalam bidang penelitan kimia bukan didasarkan pada sihir dan jampi-jampi, melainkan didasarkan pada metode ilmiah yang benar. Ada hal yang perlu disebutkan berhubungan dengan peranan Jabir dalam ilmu kimia, /aitu bahwa dia adalah perintis dan peletak batu pertama ilmu kimia. Kemudian setelah itu datang ilmuwan besar seperti Abu Bakar Ar-Razi yang melangkah lebih luas lagi dalam bidang kimia, terutama karena setelah Iabir orang-orang masih beranggapan bahwa ilmu kimia bagian dari sihir dan khurafat.

Penemuan llmiah Jabir bin Hayyan

Penemuan di Bidang Ilmu Kimia Jabir

menemukan sebagian alat penyajian bahan-bahan kimia dan mencampurnya dengan peralatan yang lain. Dalam bukunya, dia banyak menerangkan tentang peralatan ini, diantaranya terbuat dari kaca dan logam.

Dia berhasil memadukan asam hidroklorik (senyawa garam) dengan asam netrik. Kemudian campuran yang dihasilkan dari pemaduan ini dikenal dengan nama “air emas” atau “air raksa” karena kemampuannya untuk mencairkan emas. Cara pemaduan berikutnya adalah dengan meneteskan campuran garam makanan (cloride sodium) dan kaca biru atau kaca ciprus. Jabir menyifati zat asam ini sebagai air keras karena ia dapat mencairkan logam.

Dia mengetahui zat asam organik berikut: kolik, limonik dan tatrik. Dia berhasil memadukan soda yang dibakar (hidroksida sodium) dengan didihan soda (karbonatsodium) dan kalsium oksida. Soda yang dibakar merupakan bahan pokok dalam Proses encamPuran bahan kimia.

Dia berhasil memadukan antara nitrat perak dengan karbon timah. Dia berhasil memisahkan arsenik dari sulfit arsenik, dan memisahkan antimony (logam keptttih-putihan yang rapuh untuk membuat obat dan pengeras camPuran logam) dari sulfat antintony.

Dia mampu membedakan antara zat asam dengan alkalislis. Dia mengatakan bahwa keduanya dapat saling berinteraksi untuk membuat garam.

Jabir mampu membedakan antara pemisahan yang sebenarnya yang terjadi akibat pencairan penuh dari baja di dalam air dan pemisahanbergantung yang terjadi akibat menyebarnya partikel-partikel baia di dalam air. Pemisahan ini dilakukan dengan cara menyaring. Jabir membicarakan tentang cara memurnikan emas dan hubungannya dengan batu permata. Hal ini, dia lakukan-disamping penemuannya yang banyak dalam ilmu kimia-diantara barisan Para Peneliti seni dan kerajinan.

menulis sebanyak 500 makalah dalam bidang kimia. Dia juga menulis buku-buku kedokteran, matematika, filsafat, logika dan puisi. Muhammad bin Sa’id As-Sarqasti yang dikenal dengan nama Ibntt Al-Musyath Al-Astharlabi, dia mengatakan bahwa dia melihat buku yang dikarang Jabir di Mesir tentang AsterlablT tidak ada bandingannya. Sebagaimana diketahui, Jabir juga memiliki makalah-makalah tentang cermin. Diantara karya tulisnya yang terkenal adalah sebagaiberikut:

  1. ¬†” Al-Khawash Al-Kabir” yang merupakan buku paling terkenal dan manuskripnya tersimpan di musium
    Inggris.
  2. ¬†“Kitnb As-Sab’in” dan “Kitab Ar-Rahntah.” Keduanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin
    pada abad pertengahan.
  3. ¬†“Al-lantal Al-‘lsrttn” yang meliputi dua puluhmakalah tentang kimia.

Jabir wafat di tempat kelahirannya, Thus pada tahun L97 H (813 M), setelah dua abad kemudian,  laboratoriumnya ditemukan setelah digusurnya rurnah-rumah yang terletak di distrik Bab Damaskus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *