AGUS SALIM

Agus Salim lahir dengan nama Masyudul Haq
(berarti pembela kebenaran) di Kota Gadang, Bukittinggi,
pada bulan Oktober 1884. Dia termasuk segelintir anak bumiputera yang bisa menikmati pendidikan Belanda. Anak bekas jaksa dari Sumatera Barat itu adalah lulusan terbaik sekolah menengah Belanda (Hogere Burger School – HBS).Ia mampu berbicara dalam sembilan bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Perancis,
Arab, Turki, Jepang, dan tentu saja bahasa Indonesia dan Minang.

Setamat BBS, Agus Salim bekerja pad a pemerintah Belanda dan ditempatkan
di Jeddah sebagai penerjemah. Sembari bekerja, Agus Salim memperdalam ilmu agama Islam kepada pamannya sendiri, Syech Ahmad Khatib, Imam Masjidil Haram. Sepulang dari Jeddah, Agus Salim tidak lagi betah bekerja untuk Belanda. Ia kemudian mendirikan sekolah
HIS (Hollandsche In.lan.dsche School) sebelum kemudian masuk dunia pergerakan nasional lewat Sarekat
Islam, Jong Islamieten Bond, dan Gerakan Penjadar. Ia mulai malang-melintang dalam politik praktis untuk membangkitkan semangat menuju kemerdekaan. Sebagai pemimpin pergerakan nasional, Agus Salim menyadari pentingnya menyebarkan pemikirannya kepada khayalak. Karena itu, Agus juga tekun menjalankan profesinya sebagai wartawan.

Di SI karir organisasi Agus Salim berkembang. la langsung menjadi anggota pengurus pusat SI. Pada 1919 Agus Salim dan Semaun mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh yang menuntut Belanda segera mendirikan dewan perwakilan rakyat yang sebenarnya. Agus sempat pula mengorganisasi pemogokan buruh untuk menuntut kenaikan gaji di Surabaya, Cirebon, dan Semarang. Demi memperjuangkan kepentingan rakyat, Agus Salim bersedia duduk di Volksraad (Dewan Rakyat bentukan Belanda) dari 1921-1924. Sejak itu Volksraad semakin tidak
kooperatif dengan pernerintah Hindia Belanda. Sikap membangkang yang ditunjukkan Agus Salim kepada pemerintahan kolonial juga tampak dalam goresan penanya sebagai warta wan. la kerap memaparkan praktik penindasan Belanda terhadap rakyat ked!, terutama di daerah perkebunan di Indonesia. Tak sebatas bersembunyi di belakang pena, kata-katanya juga terkenal vokal. Pidato-pidato yang ia lontarkan saat menjadi anggota Volksraad sungguh membangkitkan kesadaran. Agus Salim mengecam keras ketidakpedulian Belanda terhadap rakyat
jajahannya. Ucapan yang tidak kalah tajamnya juga kerap ia sampaikan di depan anggota Jong Islamieten
Bond yang ia dirikan.

Meskipun dekat dengan buruh dan rakyat, Agus Salim tidak bergeser dari ajaran Islam di sepanjang perjuangannya. Tidak mengherankan tatkala unsur-unsur komunis mulai masuk ke da1am SI (ketika itu sudah menjadi partai) pada era 1920-an, ia bereaksi keras. Pada Konggres SI tahun 1921, Agus Salim mengusulkan agar anggota yang sudah menganut komunisme agar meninggalkan SI demi disiplin partai.

Di mas a awal kemerdekaan, Agus Salim ikut merancang UUD 1945 bersama 18 orang lamnya dipimpin
Soekarno. Namun, jasa Agus Salim yang paling penting adalah misi diplomatiknya memperkenalkan
negara baru ini ke dunia luar. Pangkal kemenangan diplomasi Indonesia adalah perjanjian persahabatan
dengan Mesir pada 1947. Kepiawaian Agus Salim berdiplomasi ini pun terus ia lakukan saat ia menjadi menteri luar negeri di masa Kabinet Sjahrir, Kabinet Amir Sjarifuddin, dan kabinet Hatta. Walau badannya kecil, di kalangan diplomatik ia dikenal dengan julukan The Grand Old Man – sebuah bentuk pengakuan atas prestasinya di bidang diplomasi.

Meski terkenal bermulut pedas, anehnya, tak pernah sekalipun Agus Salim ditangkap Belanda. Padahal,
rekan-rekan seperjuangannya di Serikat Islam (SI), seperti H.OS. Tjokroaminoto, pendiri SI, kerap masuk bui. Akibatnya muncul isu tidak sedap yang mengatakan kalau Agus Salim sebenarnya adalah  antek Belanda. Sebab, sebelum dia benar-benar terjun sebagai war taw an dan aktif dalam gerakan kemerdekaan,
ia adalah pegawai pemerintah Belanda. Bahkan semasa di Riau, Agus Salim sempat diangkat anak keluarga Belanda. Belakangan isu tak terbukti kebenarannya. Hanya sekadar gosip murahan yang sengaja ditiupkan pemerintah Belanda dengan maksud mengadu domba para pemimpin bangsa. Agus Salim adalah nasionalis tulen yang memiliki cita-cita melihat negara Indonesia bebas dari kungkungan penjajah Belanda.

Agus Salim  wafat tahun 1954 di usia 70 tahun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *